Senin, 31 Desember 2012

PPS PUTRA BETAWI

Persatuan pencak silat putra betawi terdiri dari beberapa perguruan diantaranya :

Silat BEKSI (BIE SIE)



Asal-usul ini telah direvisi susai dengan yang diceritakan oleh guru besar SILAT BEKSI kong Nur Abdul Malik.

Terdapatlah seorang Tionghoa peternak yang tinggal di daerah dadap Tangerang ( sekarang yang dikenal dengan cina benteng) bernama Lie Ceng Oek. sebenarnya keluarga Lie sendiri tidak mempunyai atau mewarisi beladiri apapun dari negeri asalanya. cerita disingkat sampai lie sedang berteduh di sebuah gua di daerah tersebut setelah selesai mengangon ternak peliharaannya ketika kala itu terjadi hujan. 

Saat berteduh lie, mendapat panggilan untuk masuk ke dalam gua tersebut,. di dalam gua lie ceng oek bertemu dengan sosok tinggi yang disebut oleh orang betawi ki idan/ ki jidan. Mulai dari situlah lie ceng oek belajar silat (meski tidak diceritakan bagaimana mulanya). setelah tamat belajar beladiri, lie ceng oek mulai membangun reputasinya di dunia persilatan yang kala itu di daerah tersebut masih banyak para pendekar dan centeng terkenal.

Nama Lie Ceng oek pun akhirnya terdengar ke seantero batavia, terlebih ketika dia berhasil menjadi seorang saudagar kaya dierahnya. Hinnga akhirnya bertemulah lie dengan Gozalih yang kala itu, diklaim sebagai pendekar silat terkenal dari salah satu aliran di betawi. kong Gozalih sendiri akhirnya belajar bie sie ( nama yang diberikan lie ceng oek kala itu) setelah ia dikalahkan oleh ceng oek. seiring dengan hal itu, kemudian juga masuk nama-nama besar yang hingga kemudian dikenal sebagai guru dari tiga guru besar BEKSI yaitu, kyai Marhali.

Nama Bie Sie sendiri akhirnya berubah menjadi BEKSI atas logat masyarakat betawi kala itu, yang berarti pertahan empat penjuru. dari kyai Marhali sendir yang akhirnya terakhir kali bertempat di daerah Benda, Tangerang, mempunyai sejumlah murid yang tiga diantaranya menjadi guru besar dan akhirnya membawa nama beksi hingga dikenal seantero jakarta.
 Lebih lanjut BEKSI lebih dikenal dari daerah petukangan jakarta selatan dikarenakan, disitulah awal mula ketiga guru besar mengembangkan silat beksi. sementar aperguruan beksi yang berasaa darimurid kyai Marhali lainnya masih tersebar di daerah pelosok tangerang hingga cengkareng jakarta barat, yang hingga saat ini masih diajarkan secara turun temurun.

Lebih lanjut inilah para tokohnya berdasarkan generasi :

Generasi I      : Ki Jidan (Ki Iban)
Generasi II     : Ki Lie Cengk Ok, Ki Tempang, Ki Muna, Ki Dalang Ji’ah
Generasi III    : Kong Marhali, Kong Godjalih
Generasi IV    : Kong H Hasbullah, Kong HM Nur, Kong Simin, Minggu, Salam Kalut, H Mansyur, Muhammad Bopeng
Generasi V     : Tonganih, Dimroh, HM Yusuf, HM Nuh, Sidik, H Namat, H Syahro, Mandor Simin, Umar
Generasi VI    : H Machtum, Tong tirih, H Dani, Udin Sakor, Soleh, Tholib/syaiful, dll
Generasi VII   : Abdul Aziz, Abdul Malik, HA Yani, Mftah, Nasrullah, dll

Selain itu ada beberapa nama yang belum disebutkan dari para murid Kyai Marhali lainnya, dan penerusnya hingga kini seperti Lie Jie Tong dan Nona Loen sebagai pewaris permainan senjata atau golok.

Dan adapun nama- nama jurus di perguruan Beksi kong Nur Petukangan adalah :

1.  Jurus Beksi
2.  Jurus Gedig
3.  Jurus Tancep
4.  Jurus Ganden
5.  Jurus Bandut/bandul
6.  Jurus Broneng
7.  Jurus Tingkes
8.  Jurus timpug
9.  Jurus Kebut
10. Jurus Tiga
11. Jurus Galang Tiga
12. Jurus Galang Lima


Tokoh aliran silat Sabeni, Zul Bachtiar, mengatakan bahwa aliran silat Sabeni ini memang tak setenar ilmu silat lain yang ada di Betawi. Sebab, saat ini hanya satu perguruan atau padepokan silat Sabeni yang masih tersisa di Tanah Abang. Itu pun hanya beranggotakan tak lebih dari 30 orang.
“Dulu ada beberapa perguruan, itu pun diasuh oleh cucu-cucu H Sabeni, yakni Ramdhan) Mustofa dan Taufik. Tapi sekarang cuma saya, yang lain udah pada bubar,” kata salah satu cucu H Sabeni ini. 
Zul menjelaskan aliran silat ini lahir pada awal abad ke-20. Pencipta aliran ini adalah H Sabeni yang merupakanjago silat Betawi dari Tanah Abang, dekat dengan pasar Kambing. “Haji Sabeni mendapatkan ilmu silat dari dua orang berbeda, yakni H Suud dan H Mail, keduanya tokoh Tanahabang,” katanya.
Ciri khas silat Sabeni adalah serangan pukulan dengan sontokon pada bagian punggung telapak tangan. Tak hanya itu, kuda-kuda aliran Sabeni pun lebih rendah antara kaki satu dan lainnya yang sedikit merapat.
Di silat Sabeni ada LS jurus dasar yang terdiri atas jurus dasar 1 hingga jurus dasar 15. Keseluruhan jurus dasar yang ada, lanjut Zul Bachtiar, terfokus padapenyerangan. “Kaga ada istilah nunggu diserang lawan, tapi kityang dahulu memulai serangan terhadap lawan,” kata pria yang kini bermukim di Bogor dengan logat Betawinya yang masih kental.
Zul menuturkan, minimnya penerus ajaran silat Sabeni karena kurangnya minat dari generasi muda Betawi. Seni bela diri silat ini, lanjut Zul, kalah pamor dengan jenis bela diri lain dari luar daerah atau pun luar negeri. “Usaha saya untuk terus mengajarkan ini juga, sebagai upaya pelestarian kesenian silat,” ujarnya.
Padahal, katanya, Ilmu silat ini pernah tenar sekitar tahun 1940-an saat H Sabeni mengalahkan jagoan karate dan jagoan sumo asal Jepang dengan mudah. Akhirnya banyak warga yang berguru ke H Sabeni. Karena kesohorannya, nama H Sabeni diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Tanah Abang, h Sabeni wafat pada 1945 dan dimakamkan di Gang Kubur, Tanah Abang, berdekatan dengan rumahnya. Namun beberapa tahun kemudian, makamnya dipindahkan ke TPU Karet Bivak, Tanah Abang. Nggak ade yang tersisa dari H Sabeni, hanya sebuah makam yang terletak di Karet Bivak,” kata Zul.