Rabu, 19 Juni 2013

Pencak Silat Siwah (Nanggroe Aceh Darussalam)


Aliran silat asli yang berasal dari daerah Nanggroe Aceh Darussalam yang memadukan empat aliran asli Aceh yaitu dari 1.Peureulak ,2. Aceh Besar (Keudee Bing - Lhok Nga), 3. Pasee, 4. Pidie
Didirikan oleh ABU TAUFIK AKBAR, lahir di Sigli(Aceh pidie) 7 mei 1972, sekarang bertempat tinggal di Batuphat Timur Dusun A kota Lhokseumawe. Pada usia 12 tahun (kelas 1 smp) beliau mulai berlatih pencak silat di perguruan BETAKO SIKATSU GAJAH PUTEH asuhan Ustad Yusuf, perguruan ini muridnya adalah remaja mesjid Nurul Hidayah komplek perumahan Meusara Agung Aceh Besar.Kemudian bergabung dengan Perguruan Pencak Silat SURYA WIJAKSANA asuhan bapak Bakhtiar (almarhum).


ABU TAUFIK AKBAR pernah mendapatkan predikat pesilat terbaik se Aceh besar untuk usia remaja (SMP).kemudian ABU TAUFIK AKBAR juga mendapat bimbingan dengan Pak Saleh (almarhum) beliau adalah salah seorang pengembang Pencak Silat Di Aceh Besar beliau mengasuh perguruan MERPATI PUTIH .
Untuk menyempurnakan seni beladiri,ABU TAUFIK AKBAR melengkapi pencak silatnya dengan ILMU TENAGA DALAM dengan bergabung dan menimba ilmu dengan Pak Jufri Nyak Leman (almarhum) beliau guru besar Perguruan Seni Bela Diri Tenaga Dalam LENCANA SAKTI .ABU TAUFIK AKBAR mendalami tenaga dalam sampai selesai .Jabatan terakhir di koordinator pelatih dan koordinator DIKLAT LENCANA SAKTI .
Karena dalam keseriusannya ABU TAUFIK AKBAR dalam seni bela diri pencak silat beliau membuka perguruan SENI BELA DIRI PENCAK SILAT SIWAH yang berpusat di Batuphat Timur .prediket terakhir yang di peroleh oleh ABU TAUFIK AKBAR adalah Pelatih dan Juri SILAT SENI TINGKAT NASIONAL (bersertifikak) pada Desember 2007.




Rabu, 02 Januari 2013

PS. Al-azhar Seni Bela Diri



ASBD - Al-Azhar Seni Bela Diri - Moslem Martial Arts, didirikan pada tahun 1970 oleh Kak Yon. Basis utamanya ASBD adalah di Masjid Alazhar Jakarta. (Kak / kakak: ditujukan untuk kakak / adik karena menghormati, untuk praktisi Silat). Baru-baru ini, ASBD dipimpin oleh "Kak Imam Soebaedjo" atau sebagai "Kak Jon" yang dipilih oleh semua Utama Pelatih (pangkat tertinggi di pelatih silat di ASBD). ASBD terdiri dari banyak sistem pencak silat dan lain seni bela diri berbagai dari seluruh dunia, maka, Seni Bela Diri nama yang digunakan.Sedangkan sistem utama Al-Azhar berasal dari Jawa Timur pencak silat, murid pertama Kak Yon berasal dari sistem lain dari seni bela diri, yang hanya ingin belajar sesuatu yang baru. Dari titik ini, Kak Yon dan murid-muridnya mulai menggabungkan berbagai bentuk dan teknik. Dengan teknik pencampuran dan gaya bertarung, mereka telah mengembangkan bentuk yang lebih modern dari pencak silat. Mereka individual Al-Azhar dalam gaya yang unik dari pencak silat.


Silat Bakti Negara Bali



"Bakti Negara" merupakan sebuah lembaga pendidikan tempat berguru pencak silat dengan empat (4) materi pendidikan, meliputi :
  • Olahraga, membentuk kemampuan mempraktekkan teknik - teknik pencak silat yang bernilai olahraga bagi kepentingan memelihara kesehatan jasmani atau untuk mencapai prestasi keolahragaan.
  • Beladiri, membentuk kemampuan / kemahiran teknik beladiri.
  • Seni, membentuk keterampilan keindahan gerak pencak silat.
  • Mental Spiritual, bertujuan untuk memperkuat kemampuan mengendalikan diri.
Bakti Negara" sebagai sebuah sistem ditujukan untuk melatih cipta, rasa dan karsa, sehingga mampu mengembangkan jati diri manusia sebagai mahkluk Tuhan berlandaskan Tri Hita Karana, dan tidak dipergunakan untuk menghancurkan seorang lawan, tetapi digunakan sebagai alat untuk pengembangan dan penyempurnaan diri.
 "Bakti Negara" secara resmi didirikan pada tanggal 31 Januari 1955 di Banjar Kaliungu Kaja, Denpasar, Bali oleh empat (4) orang pendekar veteran pejuang kemerdekaan Republik Indonesia, mereka adalah : pendekar Anak Agung Rai Tokir, I Bagus Made Rai Keplag, Anak Agung Meranggi, Sri Empu Dwi Tantra, dan Ida Bagus Oka Dewangkara dipercayai sebagai pengurus "Bakti Negara" untuk pertama kalinya.
Pada tahun 1968 diwarnai dengan proses kematangan dari para pendekar muda "Bakti Negara". Periode ini merupakan masa transisi dari generai tua kepada generasi muda, utamanya I Bagus Alit Dira dibantu oleh I Made Mangkling, I Wayan Tambir, I Bagus Made Suenda, I Made Wirasana, I Made Dana, I Made Mariatha, Suhaemi, Anak Agung Ngurah Manik Astawa serta pendekar lainnya, berupaya keras mengembangkan "Bakti Negara". Untuk mendukung pengembangan "Bakti Negara", Lembaga Dewan Pendekar "Bakti Negara" memberikan mandat kepada I Bagus Alit Dira dibantu oleh para pendekar lainnya guna memformulasikan teknik - teknik yang dikuasai oleh para pendiri dalam jurus - jurus dasar "Bakti Negara", mengadopsi dan mengakomodasikan seni kebudayaan serta nilai - nilai religius yang hidup di Bali sebagai pedoman hidup. Menyatu dalam gaya baru yang unik dengan berbagai kuda - kuda serta berbagai gerakan seni, senjata dan gerakan beladiri yang mengekpresikan seni kebudayaan Bali, seperti tari Barong, Oleg, Baris Tumbak, Gebug Ende serta yang lainnya. Melalui standarisasi dan proses akulturasi "Bakti Negara" telah menjadi bagian integral dari Banjar atau organisasi sosial kemasyarakatan desa (seka) serta telah memasuki lembaga pendidikan (sekolah). "Bakti Negara" telah dipelajari oleh banyak orang dsri berbagi status, jenis kelamin, usia yang berbeda. Perkembangan "Bakti Negara" dari waktu ke waktu sangat mengembirakan baik dari segi kuantitas maupun kualitas, telah berkembang diseluruh wilayah Bali, beberapa daerah di Indonesia seperti NTB dan NTT, juga dibeberapa negara lain serta telah melahirkan banyak pesilat yang mampu berprestasi di kancah nasional maupun internasional.

PERPI Harimurti

Perguruan Pencak Silat Indonesia Harimurti atau disingkat PERPI Harimurti adalah salah satu dari sepuluh perguruan pencak silat historis IPSI. Proses berdirinya perguruan ini, mulai dari Pencak Tejokusuman, Perguruan Pencak Indonesia Mataram (PERPIM), Persatuan Pencak Indonesia (PERPI) sampai PERPI Harimurti, tidak lepas dari peran pendekar tua yang saat ini sudah berusia 86 tahun. Dialah Sukowinadi, yang akrab dipanggil Pak Suko. Meskipun dilihat dari usia boleh dikatakan uzur, yang ditandai dengan rambutnya yang sudah memutih serta garis-garis ketuaan yang menghiasi wajahnya, namun penglihatan, pendengaran, serta daya ingatnya masih normal, bahkan luar biasa. Fisiknya pun demikian, ia masih mampu membuat fotografer terpelanting terkena teknik guntingan kakinya yang sempurna.
 Ditemui di Jl. Veteran 13, Yogyakarta, dengan jelas dan gamblang ia menceritakan perkembangan pencak silat di Yogyakarta sebelum masa kemerdekaan, kronologis berdirinya perguruan PERPI Harimurti, dan proses terbentuknya Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di luar kepala, sungguh daya ingat yang mengagumkan. Pandangannya mengenai perkembangan pencak silat saat ini menunjukkan betapa kritisnya ia menanggapi berbagai hal, argumentasinya yang kuat membuat orang yang mendebatnya tidak mampu menyanggahnya.
Pembawaannya yang ramah dan terbuka tidak menampakkan bahwa ia adalah seorang pendekar yang disegani, bahkan cara berbicaranya lebih mirip seorang kakek yang sedang menasihati cucunya. Kalau kamu tinggal beberapa hari lagi di sini, saya akan kasihkan jurus-jurus praktis yang mudah dipelajari untuk penjagaan diri, ujarnya.
Ketika ditanyakan lebih jauh, bagaimana yang dikatakan jurus praktis itu, ia menerangkan sambil langsung memperagakannya.
Kata para pakar, pencak silat itu bisa dikategorikan sebagai salah satu cabang olahraga, sedangkan olahraga berhubungan erat dengan anatomi tubuh manusia. Maka seorang pesilat harus memahami ilmu anatomi. Dengan ilmu ini, kita dapat mengolahnya agar menjadi sehat, serta dapat pula digunakan untuk mengetahui bagian tubuh lawan yang lemah. Ini khusus untuk penggunaan dalam beladiri, ujarnya sambil menunjukkan bagian-bagian tubuh mana yang bisa dijadikan sasaran pukulan, tendangan, atau bentuk serangan yang lain.
Memang langsung dapat dirasakan bahwa setiap bagian tubuh yang dipegang, ditekan, atau dipukul dengan tenaga yang relatif lemah, namun efeknya menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.
Bagaimana ia bisa mendapatkan kemahiran seperti itu? Ternyata jawabnya mudah sekali. Logis saja, saya sudah berlatih selama 67 tahun, maka instink saya sudah terlatih untuk bergerak mempertahankan diri pada saat yang diperlukan. Jadi, intinya adalah berlatih! Itu kan logis. Belajar pencak silat itu yang logis saja.Tidak usah mistik-mistikan! Yang logis saja susah diterangkan, apalagi yang mistik! kata mantan perwira penerangan itu menasehati.
Keluarga saya dikaruniai umur yang panjang. Ayah meninggal pada usia sekitar 100 tahun, kakak meninggal pada usia 96 tahun. Saya kan sekarang ini masih 86 tahun. Jadi untuk beberapa tahun ke depan, saya masih kuat untuk melatih, jawabnya ketika ditanya tentang resep panjang umur.
Pada saat pengambilan foto, dapat disaksikan bahwa ia memang layak disebut pendekar. Ia seakan tidak merasa lelah sedikitpun ketika memperagakan berbagai macam jurus PERPI Harimurti, dari mulai gerak dasar, aplikasi jurus, permainan pisau, sampai teknik meditasi Padam Prana yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh dan ketentraman jiwa. Menurut penuturannya meditasi ini merupakan warisan dari eyangnya sendiri, Ronggowarsito.
Beladiri itu kodrat makhluk hidup, termasuk manusia. Namun karena manusia dibekali akal, maka harus digunakan. Demikian pula dengan pencak silat. Kita jangan hanya nrimo saja apa yang diberikan oleh guru, namun harus diolah kembali dengan menggunakan akal pikiran agar lebih sempurna dari waktu ke waktu. Bagi saya pencak silat adalah nomor satu, di mana saya berada, di situ saya harus melatih. Itulah pengabdian, tuturnya mengakhiri perbincangan. (Graspuzi)
Dengan menguasai anatomi, maka serangan menjadi lebih efektif. Pak Suko membalas serangan dengan menotok urat syaraf di sekitar sikut membuat tangan lawan menjadi lumpuh. 

Himpunan Anggota Silat Dasar Indonesia



Keluarga HASDI atau Himpunan Anggota Silat Dasar Indonesia didirikan di Jember – Jawa Timur- Indonesia, pada tanggal 14 April 1961 oleh Bpk. R.S. Hasdijatmiko di usia 21 tahun (lahir pada tanggal 14 April 1940 dan wafat pada 10 Nopember 1999). Pak Hasdi, demikian biasa beliau dipanggil, juga dipercaya menjadi Ketua IPSI se-ex Karesidenan Besuki . Berarti di usia yang masih belia yaitu 21 tahun beliau telah dikenal dedikasi dan kemampuannya dalam membawa IPSI dan mengajak Perguruan Silat untuk mau menjadi anggota IPSI (karena pada saat itu banyak perguruan silat yang tidak mau menjadi anggota IPSI). Amanat yang diemban beliau untuk memimpin IPSI se-ex Karesidenan Besuki sampai pada tahun 1975(14 tahun). Dan Sebagai Ketua IPSI Kabupaten Jember mulai tahun 1979 sampai 1989 (10 tahun). Mungkin sebuah rekor tersendiri, usia belia (21 th) dan terlama (24 th).

Selama menjadi Ketua IPSI salah satu yang sampai sekarang tetap di jalankan atas ide dan inisiatif beliau adalah long march th.1969 Jember-Tanggul-Jember oleh 13 Perguruan Silat plus SGPD (Sekolah Guru Pendidikan Djasmani, yang waktu itu pelatih silatnya adalah mas Budi Supriyanto). Long march ini adalah cikal bakal diadakannya Gerak Jalan Tajemtra (Tanggul Jember Tradisional) yang pada waktu itu bupatinya Bapak Abdul Hadi dan Ketua KONI Bapak Abdul Rajak. 1971 diresmikan Tajemtra oleh Bupati Abdul Hadi, 1972 menjadi Tajemtra 'Mahmudi Cup' (nama korban yang tewas dalam tajemtra).

Tehnik – tehnik Silat Keluarga HASDI bersumber dari Bapak RS Hasdijatmiko sendiri yang didapat dari pengalaman dan pengetahuan beliau. Bukan merupakan penggabungan dari berbagai aliran seperti yang dilakukan beberapa Perguruan Silat lainnya sehingga dapat dikatakan Tehnik- tehnik Keluarga HASDI asli atau orisinil, ditujukan untuk kepentingan mem-Bela Diri demi Ibadah. Ragam Tehnik Silat Keluarga HASDI tersusun secara terarah dan sistematis (terdapat di Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga), tangan kosong maupun bersenjata;

1. Silat Dasar Raja (Kong Pe),
2. Silat Dasar Putri,
3. Silat Dasar Merak,
4. Silat Dasar Garuda,
5. Silat Dasar Bangau,
6. Silat Dasar Harimau,
7. Silat Dasar Bima Sakti,
8. Silat Dasar Mliwis,
9. Silat Dasar Katak (Homokang),
10. Silat Dasar Lebah Hitam,
11. Silat Dasar Teratai,
12. Silat Dasar Pendeta,
13. Silat Dasar Naga (Han Liong),
14. Silat Dasar Yang Liu
15. Silat Dasar Kong Ciak
16. Dan Gerak – gerak Silat Berpasangan

Selain Tehnik Silat, di Keluarga HASDI juga dipelajari Tehnik Pernapasan. Dalam kurun waktu tertentu diadakan ujian kenaikan tingkat.

Dalam melakukan pengembangan Perguruan, Keluarga HASDI terbilang sangat selektif . Penguasaan Tehnik Gerak Silat menjadi salah satu unsur utama yang dijadikan dasar pemilihannya. Karena penguasaan Tehnik Gerak Silat adalah sarana untuk menjaga pakem atau keaslian. Mas Budi Supriyanto diberi kepercayaan untuk membuka Cabang Keluarga HASDI di Gresik pada tahun 1971 (sekarang dipimpin oleh Mas Ainul Musyafak sebagai Ketua Cabang) dilanjutkan di Tuban pada tahun 1992 (sekarang dipimpin oleh Mas Muchibin sebagai Ketua Cabang), di Yogyakarta tahun 1990 oleh Haris Subrata, dan Surabaya tahun 1994 oleh Age Priambodo sekaligus sebagai Ketua Cabangnya. Selepas wafatnya Guru dan Pendiri (10 Nopember 1999) di Jember diteruskan oleh Bagus Djati Santigi (putra Pak Hasdi) sebagai Ketua Umum Pusat. Generasi kedua inilah yang sekarang mewarisi amanah dan semua pakem tehnik silat Keluarga HASDI.

PS. Pagar Nusa Nahdharatul Ulama (NU)



Silat pagar nusa,silat yang di rintis oleh KH. Agus Maksum Jauhari ini berlandaskan agama islam yang di naungi oleh Organisasi Nahdhatu Ulama,selain itu ilmu tidak mempelajari pengolahan tubuh saja melainkan pengolahan Wiraga,Wirasa,Wirama Wiraga yaitu mengolah tubuh mempertahankan diri dari serangan lawan serta bagaimana memberi jurus-jurus untuk mempertahankan diri,gerakan pencak ini akan di ajarkan seluruhnya hingga siswa dapat menguasai gerakan Wirasa yaitu mengolah ilmu batin seperti pengobatan,berinteraksi dengan mahluk gaib namun hal ini sangat begitu sulit untuk dipelajari hanya orang beriman tebal dan memeiliki pandangan positif untuk mempelajarinnya dan jika tidak kuat untuk syarat-syarat tersebut maka saya sarankan untuk tidak mempelajari Wirasa karena akanmembuat anda menjadi gila karena tidak bisa mengendalikan Wirasa anda
Wirama yaitu keindahan pagar nusa juga memiliki suatu kesenian mamiliki garakkan untuk dipertujukan untuk masyarakat umum agar pandangan masyrakat umum tidak mengagap pagar nusa bela diri yang keras saja namun memiliki unsur kesenian untuk melestarikan kebudayaan asli Indonesia seluruh lapisan masyarakat boleh mengikuti organisasi ini tidak pandang umur namun jika anda sudah menjadi warga pagar nusa saya berpesan agar akang tidakmenghianati organisasi ini,kalau kang berhianat atas  organisasi pagar nusa awas saja pagar nusapun juga memiliki memiliki ciri khas tersendiri dari pada perguruan yang lainnnya yaitu setiap yang mengikuti organisasi ini akan terpanggil kang termasuk murid dan para warga-warganya ,tenamg aja kalau anda mengikuti organisasi ini gak perlu khwatir karena organisasi ini sudah resmi/legal karena sudah diakui oleh IPSI "Ikatan Pencak Silat Indonesia" serta organisasipun memiliki banyak saudara dari perguruan lain seperti IKS.PI,Gasmi,dan masih banyak lagi yang masih belim saya ketahui...

Organisasi pagar nusa sendiri terbagi lagi menjadi 2 jenis yaitu :


1.Pagar Nusa Atlit (PN Atlit) yaitu pagar nusa yang melatih para siswa didiknya untuk menjadi atlit namun hanya dididik Wiraga saja seperti   lompat jauh,lari marathon,dan olahraga lainnya karena hanya mengolah tubuh,Organisasi ini dapat diikuti oleh semua lapisan masyarakat

2.Pagar Nusa Pencak (PN Pencak) yaitu pagar nusa yang mendidik siswanya untuk mempertahankan diri dari serangan musuh ilmu ini tidak untuk  di sombongkan tetapi hanya untuk membela diri saja,PN Pencak ini mempelajari Wiraga,Wirasa,Wirama untuk seluruh kelengkapan bela diri   namun jika anda sudah menjadi warga jangan sekali-kali menghianati



PS. Seni Beladiri Kekeluargaan (SBK) Elang Putih



Diawali dengan semangat mempertahankan kebudayaan dan tradisi seni bela diri pencak silat yang sudah menjadi bagian dari dirinya, M. Toha Djali, seorang kelahiran Palembang Sumatera Selatan dengan bantuan dari keenam saudaranya membentuk sebuah perguruan silat yang berlokasi di Cilandak, Jakarta Selatan, pada tanggal 2 Februari 1972 bernama Pencak Silat Seni Beladiri Kekeluargaan (PS SBKK) ElangPutih.

          Ide dasar pencantuman nama "Elang Putih" pada perguruan ini diambil dari sebuah kisah dari Pelembang, Sumatera Selatan yang menceritakan perjalanan hidup seorang pesilat tangguh bernama Pangeran Batu Api yang gigih menentang segala bentuk penjajahan dan kolonisasi bangsa asing khususnya Belanda di tanah airnya. Hingga suatu ketika Pangeran Batu Api telah selesai melaksanakan ibadah (red : shalat) di tepi sungai Musi, ia melihat seekor elang putih terbang di atas sungai tersebut dan menangkap seekor ikan dari permukaannya. Kejadian tersebut kemudian mengilhami Pangeran Batu Api untuk menciptakan sebuah jurus baru bernama jurus tujuh yang gerakannya memadukan antara gerakan shalat dengan penafsiran gerakan dari cengkraman elang putih yang baru dilihatnya tersebut.

          Perkembangan PS SBKK Elang Putih diawali dari  lingkungan sekitar  pendiri dan hingga kini perguruan ini telah mampu mengembangkan sayapnya ke seluruh wilayah DKI Jakarta melalui pelatihan di tingkat ranting di beberapa sekolah menengah